Pengaruh Media Terhadap Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat


Budaya Instan di Kalangan Millenial Sebagai Dampak Media
A. Penyebab munculnya Kebudayaan dalam Sebuah Masyarakat.
Ralph Linton menjelaskan kebudayaan sebagai seluruh cara kehidupan dari masyarakat manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Jadi dapat disimpulkan kebudayaan merupakan meliputi cara-cara bertingkah laku, dan lainnya yang merupakan hasil dari kegiatan manusia untuk suatu masyarakat atau kelompok tertentu.
Kebudayaan merupakan cara berlaku yang dipelajari bukan bersangkut paut dari transmisi biologis, maupun pewarisan sifat genetis. Meskipun hal tersebut tidak bersangkutan namun hal diatas mempengaruhi kebudayaan misalnya kebutuhan makan dan minum yang merupakan suatu kebutuhan mendasar namun bukan suatu kebudayaan manusia itu sendiri melainkan yang dapat dijadikan kebudayaan adalah bagaimana cara makannya manusia itu sendiri.
Kebudayaan itu berawal dari pengetahuan seseorang yang akhirnya diterapkan dan dijadikan suatu kebiasaan hingga terjadi pewarisan kebudayaan itu kepada generasi yang dibawahnya dan karena dianggap baik kebiasaan tersebut tidak dilupakan atau di buang melainkan dipertahankan dan di jadikan ciri khas dalam kehidupan.
Definisi lainnya mengenai budaya adalah praktik atau perbuatan yaitu keseluruhan cara hidup yang ada dalam masyarakat itu dan dilakukan secara nyata hingga akhirnya aktivitas tetap itu mempengaruhi ideologi yang ada dan menanamkan apa rutinitas yang dilakukan ini.
Maka dari itu budaya tidak dapat dipisahkan dari makna yang hidup karena tujuannya adalah mengungkapkan perilaku yang hidup tersebut.

B. Pengaruh Media
Media Massa memiliki andil yang sangat besar dalam pembentukan dan penyebaran kebudayaan atau bahkan dapat dipandang sebagai teknologi pembawa budaya dari luar ke dalam, namun nampaknya lebih besar dari itu. Seperti pernyataan Michael Real berikut ini
“Media Invade Our living space, shape the taste of those around us, inform and persuade us on products and policies, intrude into our private dreams and publics fears and in turn, invite us to inhabit them.” Media Menginvasi ruang kehidupan kita, membentuk cita rasa orang-orang di sekeliling kita, memberitahu dan membujuk kita dengan berbagai produk dan kebijakan, memasuki mimpi dan ketakutan kita dan pada gilirannya mengundang kita untuk hidup bersama mereka.
Dari definnisi di atas dapat dilihat bahwa media berperan  membujuk dan mengajak kita untuk hidup bersama mereka dengan kebudayaan yang mereka punya jika dikaitkan dengan penyebaran kebudayaan itu sendiri. Makna mengundang kita hidup bersama dapat dicerna sebagai pengaruh dimana setiap hal yang mereka lakukan mampu mempengaruhi alam bawah sadar kita melalui sebuah media dan akhirnya menimbulkan ketertarikan meski awalnya tidak tertari namun karena sering dilihat akan menimbulkan penasaran dan akhirnya kita hidup dengan cara mereka meskipun tidak berdampingan secara nyata dengan mereka dan perlahan kebiasaan mereka juga menjadi budaya dikalangan kita dan terwariskan kepada generasi selanjutnya.
Media adalah sarana menyampaikan pesan dan mendoring seseorang untuk menerima apa yang menjadi tujuan, impian, dan standar keberhasilan dalam hidup seperti yang digambarkan media itu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengaruh media dapat dikategorikan sangat kuat dan susah untuk dihilangkan karena media memiliki kekuatan untuk mempengaruhi alam bawah sadar manusia melalui panca indra yang mereka miliki seperti mata, dan telinga yang menjadi alat dominan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Rosenberg berkata “Tidak diragukan lagi bahwa media massa dapat mengancam otonomi seseorang. Selain bisa menyemaikan bibit kebebasan, media juga berpotensi menghasilkan berbagai hal buruk. Tidak ada seni, pengetahuan atau sistem etika yang terbebas dari pengaruhnya.” 
Mengarah pada perkataan Rosenberg tersebut dapat kita cermati dalam perkembangan media yang kita lihat memberi kemudahan ini, ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari perkembangan media itu sendiri yakni:
Mengancam otonomi seseorang.

Media kebanyakan sering mencampur adukan karya seperti karya besar seseorang acapkali diperlakukan sama dengan karya-karya picisan dan abal-abal hingga karena hal tersebut mengakibatkan goyahnya apresiasi pembaca dan berdampak pada minat baca masyarakat itu sendiri. Hal ini juga dikarenakan media kebanyakan kurang bisa menyaring informasi dan pengetahuan yang bermutu hingga pembaca butuh berfikir beberapa kali unuk mengambil resensi dari media massa dikarenakan kurangnya kepastiannya.

Menyemaikan bibit kebebasan.
Media banyak mengekspos kebudayaan-kebudayaan yang berada diluar kebudayaan si pengguna media tadi, dan kebanyakan media memamerkan kebudayaan yang bersifat bebas dan menjadi bahan tiruan bagi mereka sipenikmat media tadi.

Menghasilkan hal buruk.
Ada beberapa hal buruk yang dihasilkan sebuah media seperti pengeksposan hal-hal yang diberlakukan untuk umur tertentu namun masih bisa diakses dengan mudah oleh semua jenis kalangan umur pengguna. Selain hal tersebut karena media tidak membatasi pengguna dan memberikan kebebasan pada pengguan dalam menggunakannya pengguna bisa saja melakukan pagiat atau mengambil karya orang lain untuk kepentingannya pribadi.

Mempengaruhi  seni, pengetahuan, dan sistem etika.
Media memang sangat mempengaruhi seni hingga mampu membaurkan dua seni karena pengaruhnya. Pengetahuan juga begitu kita ambil saja dari teori Darwin tentang asal mula manusia yang sudah terpatahkan namun masih dipelajari dibangku sekolahan. 

Hal tersebut juga merupakan andil dari perkembangan sebuah media yang senantiasa menyajikan hal tersebut dan mempengaruhi gaya berfikir manusia. Selain seni dan pengetahuan etika juga dipengaruhi olah perkembangan media kenapa tidak, hal tersebut dikarenakan cara meniru dan saling mempengaruhi dari kebudayaan tersebut.

C. Perkembangan media dan Kebudayaan
Marshall McLuhan juga menaruh perhatian terhadap dampak dampak media massa terutama terhadap kebudayaan suatu masyarakat karena teorinya mengatakan bahwa media massa mengubah hakikat kebudayaan baik akar maupun cabangnya.
Anak-anak sejak kecil diajarkan untuk membaca agar menjadi kemampuan dasar untuk belajar secara formal baru dilatih mencari makna dari alfaber, namun media cenderung menjadikan khalayak pasif dalam mencari dan menerima bernagai informasi yang disampaikannya, hingga McLuhan berpendapat perbedaan cara belajar ini menumbuhkan budaya yang berbeda dan media dengan budayanya sendiri. Hingga ia berasumsi bahwa kemajuan teknologilah yang menyebabkan perubahan perspektif budaya itu. Contohnya saja dalam sebuah film pembuat film lah yang akan mendapat pelajaran dan peran yang banyak dibandingkan dengan penonton film yang hanya bisa menjadi penafsir dan penikmat film tanpa bisa mengubah dan memainkan film tersebut.
Hingga McLuhan juga mengatakan untuk bisa menelaah media kita harus berada diluar garis pengaruhnya, namun kini pertanyaannya dimanakah batas pengaruh media tersebut? Saya rasa tidak ada manusia yang lepas dari pengaruh media karena manusia sangat menginginkan hal yang dapat memberi mereka informasi.

D. Budaya Instan dikalangan Masyarakat Millenial
Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.  Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Awal 2016 Ericsson mengeluarkan 10 Tren Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen.
Generasi millennia merupakan generasi yang lahir ditengah kecanggihan teknologi hingga karena mereka lahir di era revolusi 4.0 yang mana mesin sudah menggantikan kebanyakan fungsi manusia mulai dari hal sepele hingga hal yang rumit yang mana dipergunakan dengan maksud untuk mempermudah kehidupan manusia itu sendiri.
Salah satu bentuk perkembangan yang memepengaruhi generasi millennial tersebut adalah perkembangan media baik cetak maupun elektronik namun mayoritas penggunaan media elektronik lebih banyak dari pada media cetak hal ini dikarenakan beberapa faktor. Teknologi terkhususnya media elektronik akan memepengaruhi kehidupan dan gaya hidup masyarakat yang dikategorikan generasi millennial karena media elektronik menyuguhi mereka bermacam produk yang dapat memeberi kemudahan dan menghemat waktu mereka.
Namun kembali kepada budaya yang diakibatkan oleh kemudahan yang diberikan media tersebut ada beberapa penyimpangan yang merubah kebudayaan dikalangan masyarakat:

1. perilaku Streaming Native yang kini kian populer.
Kebiasaan semacam ini bisa menimbulkan berbagai dampak negatif mulai dari kesehatan dan dampak sosial dalam masyarakat. Jumlah remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Ericsson mencatat, hingga 2011 silam hanya ada sekitar tujuh persen remaja berusia 16 - 19 tahun yang menonton video melalui Youtube. Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen. Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan, perilaku generasi millennial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring.
Berdasarkan hal tersebut memperlihatkan bahwa mereka lebih mengandalkan media untuk sumber informasi dan hiburan dari pada bermain dan bersosialisasi serta bertukar pikiran dengan teman di lingkungannya. Hal ini juga membuat dampak kesehatan yang sangat nampak dan berimbas bagi mereka yang candu menggunakan layanan tersebut karena radiasi benda elektronik dapat mempengaruhi kesehatan terlebih lagi jika keasikan akan membuat mereka melalikan hal yang seharusnya seperti makan.

2. Berbelanja Online
Belanja online dianggap kaum millennia sebagai salah satu kemudahan dan keefektifan waktu karena mereka hanya perlu meluangkan waktu beberapa menit saja untuk memilih dan mencari apa yang mereka butuhkan mulai dari hal kecil juga bisa dilakukan secara online. Belanja online ini menjadi kebiasaan yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat saat ini dan mereka menjadikan keluar dan berkumpul adalah hal yang membuang-buang waktu dan tidak bisa dilkakukan setiap saat.

3. Generasi millennial dengan senang hati berbagi kata sandi yang berpotensi mengorbankam keamanan daring mereka.
Kemudian sebagian besar konsumen Indonesia atau sekitar 90 persen menggunakan koneksi Wi-Fi publik. Seperti ulasan diatas tadi kaum millennial lebih cenderung mengunakan media streaming yang memerlukan kuota dan biaya yang tidak sedikit karena semua hal tersebut berbayar maka untuk mengatasi itu wifi publik yang dapat mengambil informasi pengguna dijadikan alternatif agar bisa berselancar di media.
hanya 51 persen dari mereka yang mengetahui cara mengamankan jaringan tersebut. Hanya 36 persen dari responden yang menghubungkan perangkat mobile dengan jaringan Wi-Fi dengan menggunakan VPN secara reguler. 
 
Sementara, 28 persen pengguna tidak mampu mengenali jenis email terinfeksi malware. Choon Hong menjelaskan, penelitian tersebut tidak berfokus pada jenis serangan siber. 
 
Riset Norton ini lebih menjelaskan mengenai perilaku generasi millennial dalam mengamankan perangkat mobile pribadinya. Sebenarnya, penelitian menyebutkan, pengguna makin menyadari kebutuhan perlindungan perangkat, terutama dalam melindungi informasi pribadi. 
 
Akan tetapi, pengguna tidak termotivasi mengambil langkah pencegahan. Sebanyak 76 persen pemilik perangkat mobile mengetahui kepentingan perlindungan informasi daring pribadinya.  Hanya 22 persen yang melindungi perangkatnya. Hal tersebut menyebabkan 39 persen pengguna mengalami peretasan kata sandi, 28 persen pembobolan akun email, dan 26 persen peretasan data, dan akun media sosial. 
Masih banyak lagi jika kita paparkan perkembangan media terkhhususnya elektronik yang mampu mengubah kebudayaan.

E. Produk media yang sering digunakan generasi millennia untuk memenuhi kebutuhan secara instan.
Ada banyak produk media elektronik yang diciptakan dan gunakan guna memberikan kemudahan bagi penggunanya meskipun hanya sebagai alat menghubungkan produsen dan konsumen, berikut ini beberapa akun yang sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan secara instan dan mudah:
1. Google
Tentunya kita semua mengetahui bahwa google merupakan media yang sangat dominan ditelusuri oleh masyarakat untuk mencari informasi terutama bagi mereka yang sangat terikat dengan media sosial pastilah mereka mengiginkan hal yang cepat untuk memenuhi kebutuhan seperti membuat tugas agar bisa dijadikan referensi. Memang tidak semua bahan yang disediakan Google tersebut tidak bisa dipercaya namun seperti ungkapan sebelumnya di google untuk karya yang diakui dan abal-abal tidak ada perbedaan dan bahkan yang abal-abal tersebut lebih mudah untuk diakses, ada beberapa yang dapat diakses di Google tersebut diantaranya:
a. Wordpress
b. Blogspot
c. Tumblr.
d. dan lainnya
beberapa hal diatas merupakan akun yang dapat dibuat oleh siapapun dan memeberikan informasi apapun.
2. Media sosial
Media sosial sendiri didefinisikan sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content"
Dengan menggunakan media seseorang bisa mengungkapkan ide dan apa yang diinginkan bahkan media sosial lebih baik dari pada google dari segi penyampaian perasaan dan komunikasi karena dengan media sosial manusia bisa dapat melakukan dan membincangkan banyak hal karena respon yang diberikan bersifat langsung meskipun mereka yang berkomunikasi tidak bertatapan langsung dan mengenal secara langsung.
Jika dilihat dari pengguanaanpun media sosial dapat diakses melalui Smarphone yang bisa dibawa kemana-mana dan bisa digunakan kapanpun sesuai keinginan  pengguna serta media sosial menjadi sarana komunikasi yang efektif bagi orang yang berjauhan tempat tinggalnya.


3. Aplikasi Ojek Online
Dewasa ini penggunaan ojek online meningkat hal itu bukan saja dikarenakan memudahkan ketika ingin bepergian namun karena fitu-fitur yang disediakan oleh aplikasi ojek online tersebut sangat lengkap mulai dari pulsa, makanan, hingga perlengkapan pribadi yang disediakan layaknya madia shoping online yang tidak memerlukan ongkos kirim. Karena fitur-fitur yang digunakan tersebut sangatlah lengkap ankhirnya dominan masyarakat menggunakannya.

4. dan masih banyak lagi produk instan lainnya yang digunakan oleh masyarakat millennial dalam memenuhi kebutuhannya.

F. Budaya yang tersingkir akibat budaya instan penggunaan media.
Semua hal pasti berdampak baik dan buruk tak terkecuali perkembangan sebuah media memang banyak kemudahan yang diberikan namun sedikit hal negatif tersebut jangan sampai disepelekan dan dianggap lalu, berikut ada beberapa kebudayaan Indonesia yang sudah mulai pudar dengan perkembangan media terkhususnya di era industri 4.0 ini, diantaranya:

a. Toleransi 
Kita pasti paham bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat menjunjung tinggi istilah dan penerapan toleransi hal ini disebabkan bangsa Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk dan berasal dari latar belakang etnis, suku, adat dan ras yang berbeda hal itu juga dikarenakan Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang berjejer dari Sabang hingga Merauke, kenapa penulis bisa mengatakan hal ini bisa diamati sendiri kita contohkan saja ketika seorang pengguna ojek online memesan makanan melalui aplikasi tersebut saat hujan lebat dan tengah malam, hal tersebut tidak menunjukkan adanya toleransi dari pengguna kepada driver tersebut meskipun driver memang membutuhkan pelanggan untuk memenuhi tuntutan pekerjaannya.

b. Pudarnya tegur sapa
Di sekolah dasar pastilah sering kita temui spanduk yang bertuliskan 3 budaya S yakni salah satunya sapa, dimana seseorang saling menegur orang lain jika bertemu dan berpapasan untuk meningkatkan keakraban dan saling mengenal dari mereka. Namun budaya itu sekarang sudah jarang ditemui seseorang lebih sering dan cakap dimedia sosial dengan teman mayanya dari pada mengacuhkan orang yang ada tepat disebelahnya. Lunturnya budaya sapa tersebut memperlihatkan bahwa media jauh lebih kuat dari pada kebudayaan yang telah dibangun dan ditanamkan dari lama bahkan dari generasi sebelumnya. Tidak adanya budaya sapa akan mengakibatkan turunnya kepekaan sesorang terhadap lingkungan sekitar dan rasa saling peduli juga akan ikut hilang. Padahal Indonesia terkenal dengan masyarakatnya yang sangat ramah terhadap setiap orang.

c. Minimnya komunikasi antar masyarakat.
Tidak terlalu berbeda dengan sapa tadi namun komunikasi ini lebih menekankan pada kedekatan, kita sering mendengar masyarakat adalah media pembelajaran bagi anak setelah keluarga dan sekolahnya karena di masyarakat akan terlihat bagaimana watak seorang anak apakan anak tersebut mampu menyesuaikan diri atau perlu bantuan untuk bergabung dengan masyarakatnya.
Hal ini dapat kita contohkan dengan penggunaan media sosial dimana masyarakat khususnya generasi millennia lebih dan cenderung tertarik dan berkecimpung dimedia sosial dari pada memberi pangajaran yang baik pada anak-anak yang ada disekeliling mereka.

d. Kurangnya kepekaan sosial dalam masyarakat millennial
Kurangnya kepekaan ini maksudnya juga terkait dengan budaya sapa dan komunikasi tadi namun kepekaan sosial ini lebih mengarah kepada kepedulian terhadap lingkungan seseorang yakni bagaimana sesorang memandang orang yang ada disekelilingnya. Karena ketika seseorang talah larut dengan gadget dan media sosial atau media elektronik hati dan telinganya akan bersikap bodo amat dan cuek terhadap orang lain.

e. Budaya bekerja
budaya bekerja dengan kecanggihan dan perkembangan media menjadiberkurang dikalangan masyarakat Indonesia, mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan medi yang ada di gadget mereka dari pada belajar, berdiskusi dan benerja untuk mencari penghidupan.

f. Gaya bahasa 
Hal ini dikarenakan media dapat dipengaruhi oleh siapapun begitupun pengaksesnya orang Indonesia lebih cenderung mengadopsi dari pada mengajarkan termasuk dengan bahasa yang cenderung memakai bahasa gaul dan kurang etika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru yang Hampir Setengah Tahun

Adalah Pokoknya

(Bukan) Hidup untuk sekedar hidup