Pengertian, Urgensi, dan Sejarah Literasi Media

Pengertian  Literasi Media

Literasi media berasal dari bahsa inggris yaitu media literacy, terdiri dari dua suku kata media berarti media tempat pertukaran pesan dan Literacy berarti melek, kemudian dikenal dalam istilah literasi media. Dalam hal ini literasi media merujuk kemampuan khalayak yang melek terhadap media dan pesan media massa dalam konteks komunikasi massa. Litersi media telah menguraikan beberapa defenisi, antara lain:

Menurut pakar komunikasi
Paul Messaris mendefenisikan literasi media yaitu pengetahuan mengenai bagaimana media berfungsi dalam masyarakat.

Peneliti komunikasi massa Justin Leis dan Shutt Sally mendefenisikan literasi media yaitu memahami kemampuan budaya, ekonomi, politik, dan teknologi pembuatan, produksi, dan penyiaran pesan.

Menurut Alan Rubin (1998) menggabungkan beberapa defenisi yang menekankan pengolahan kognitif dan informasi dan evaluasi kritis pesan. Dia mendefeniskan literasi media/ melek media sebagai pemahaman sumber dan teknologi dari komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang di produksi dan pemilihan, penafsiran, serta dampak dari pesan tersebut.

Christ & James (1998) mendefenisikan literasi media sebagai dampak yang ditimbulkan pesan media, yaitu sebagai besar konseptualisasi termasuk elemen-elemen berikut: yaitu media dikontruksi dan mengontruksi realitas: media memiliki dampak komersial: media memiliki dampak ideologis dan politis: bentuk serta kontennya terkait dengan masing-masing medium, masing-masing memiliki estetika kode dan persetujuan yang unik: serta khalayak menegosiasikan makna dalam media.

Menurut instisusi atau lembaga literasi media, diantaranya:
Defenisi dari Aspen Media Literacy Leadership Institute (1992) bahwa: Media Literacy is the ability to access, analyze, evaluate and the cereate media in a variety of froms. Literasi media adalah kemampuan itu untuk mengakses, meneliti, mengevaluasi dan menciptakan media didalam bermacam wujud-wujud. Hal ini terkait kemampuan tiap-tiap individu dalam beragam tahapan aktivitas literasi media. 
Committee of public education dalam pediatrics, menjelaskan bahwa: media literacy is the study and analysis of massa media. Literasi media merupakan studi dan analisis mengenai media massa. Dalam pandangan ini literasi media tidak lagi dipandang sekedar aktivitas kemampuan individual, tapi masuk dalam ranah kajian studi ilmiah komunikasi pada perguruan tinggi.
Dalam perkembangannya literasi media kemudian menyentuh sebagai suatu kegiatan terorganisir dalam bentuk pendidikan kepada masyarakat. CML (Centre for Media Literacy) kemudian menggunakan defenisi yang diperluas.
Literasi media adalah suatu pendekatan abad ke-21 kepada pendidikan. Itu menyediakan suatu kerangka untuk mengakses, meneliti, mengevaluasi, menciptakan dan mengambil bagian dengan pesan-pesan di dalam bermacam wujud-wujud dari cetakan ke video sampai internet. Media melek huruf membangun satu pemahaman peran dari media dalam keterampilan-keterampilan masyarakat penting maupun dari pemeriksaan dan pernyataan diri (yang) penting bagi para warga Negara suatu demokrasi. 
Pendekatan literasi media kini tidak hanya terbatas lagi pada kemampuan individu orang dewasa atau sebatas kajian studi di perguruan tinggi, namun lebih jauh mempersiapkan generasi selanjutnya dalam aktivitas literasi media. 
Literasi media mempunyai kaitan dengan membantu para siswa mengembangkan satu pemahaman kritis dan yang diberitahu sifat alami media massa, teknik-teknik yang digunakan oleh mereka, dan dampak dari teknik-teknik. Lebih spesifik, itu adalah pendidikan bahwa mengarahkan untuk meningkatkan pemahaman para siswa dan kesenangan dari bagaimana media bekerja, bagaimana mereka membangun kenyataan. Media melek huruf juga tujuan-tujuan untuk menyediakan para siswa dengan kemampuan itu untuk menciptakan produk-produk media. 
Dari defenisi yang dikemukakan baik oleh para pakar komunikasi dan lembaga pegiat literasi media, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kurun waktu yang lama literasi media yang terbatas hanya pada kajian studi di perguruan tinggi kini sudah bergerak lebih maju, lebih terorganisir atau terlembaga dan generasi selanjutnya dalam menyentuh pada upaya mempersiapkan kemampuan literasi media setiap individu dimasa yang akan datang.
Istilah Literasi sering dihubungkan dengan media cetak, sehingga literasi sering dimaknai sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Literasi media mencaup semua kemampuan yang meliputi literasi visual, literasi informasi, literasi computer, literasi bacaan dan lain sebagainya.


 Potter mendefinisikan Literai media sebagai berikut:
“Literasi media merupakan seperangkat prespektif bahwa kita secara aktif mengekspos diri sendiri terhadap media untuk menafsirkan makna dari peran-peran yang kita hadapi. Kita membangun prespektif kita dari stuktur-struktur  pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memerlukan alat-alat dan bahan baku. Alat-alat adalah keterampilan kita. Bahan bakunya adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. Menggunakan secara aktif berarti kita sadar terhadap pesan-pesan dan berinteraksi secara sadar dengan pesan-pesan ini”.
Dari penjelasan Potter, literasi media hanya sekedar kemampuan-kemampuan tertentu, tetapi juga merupakan suatu yang bersifat umum. Literasi media tidak hanya sekedar mengkonsumsi media, tetaoi juga memproduksi, menciptakan dan mengkomunikasikan informasi secara berhasil dalam media merupakan sebuah keterampilan komunikasi dan informasi yang diperluas yang digunakan untuk menanggapi perubahan informasi yang diperluas yang digunakan untuk menanggapi perubahan informasi dalam lingkungan kita.
Menurut Zacchetti mengemukakan  defenisi literasi media berdasarkan pendekatan kritis, menurutnya :
“Literasi media adalah kemampuyan untuk mengakses, untuk memahami dan mengevaluasi secara kritis isi media dan aspek media yang berbeda , serta untuk menciptakan komunikasi dalam berbagai konteks. Literasi media yang berhubungan dengan semua media, termasuk televise dan film, radio, dan rekaman music, media cetak, internet dan teknologi komunikasi digital lainnya.”
Defenisi ini menggarisbawahi pentingnya kapabilitas dalam teknologi informasi dan komunikasi, bukan hanya menyangkut keterampilan teknis dan instrumental, tetapi juga keterampilan dalam hal-hal yang bersifat kreatif, kritis dan analitis.


Sejarah Literasi Media

Sejarah di Indonesia
Perkembangan literasi media di Indonesia merupakan proses untuk mencari formula  bentuk yang sesuai, hal ini terjadi karena keterlambatan  masuknya literasi media di Indonesia di saat Negara –negara maju sudah berkembang aktifitas literasi media mereka. Adapun periodesasi literasi media di Indonesia (Guntarto, 2012) sebagai berikut :
Periode Mencari Bentuk (1990-2000)
Untuk menyederhanakan, perkembangan literasi media di Indonesia dapat di bagi dalam dua periode, yakni periode 1990-2000 dan periode 2000-2010. Tahun 1991, yayasan kesejahteraan anak Indonesia (YKAI) menyelenggarakan  sebuah workshop tingkat  Asia-Pasific, tentang anak dan televisi di Cipanas . dalam salam satu pasal  deklarasinya, dinyatakan  bahwa  “Untuk maksud baik atau pun  buruk, televisi ada di sekeliling jutaan anak. mereka menonton apa saja  yang ada di televisi, dan televisi akan terus menerus menimbulkan pengaruh dalam kehidupan anak di Asia baik fisik, mental, emosi, dan perkembangan spiritualnya”.
Deklarasi itu juga mengakui peran penting yang seharusnya dimainkan oleh televisi dalam membantu tumbuh kembang anak yang baik, dan perlunya dikembangkan media literasi dikalangan anak-anak. Berbagai forum seminar lainnya, lebih menekankan dampak televisi pada anak dan bagaimana orang tua harus bersikap. Seminar-seminar ini banyak diselenggarakan oleh berbagai institusi, sekolah, perguruan tinggi, dan lain-lain. Forum seminar tersebut biasanya diselenggarakan selama satu sesi atau setengah hari dengan tema-tema popular yang dibutuhkan oleh orang tua dan guru. Pembahasan dalam forum tersebut dapat dikatakan merupakan sepenggal dari kegiatan literasi media yang utuh.

Periode Pematangan (2000-2010)
Pada periode ini, masih banyak bentuk kegiatan literasi media seperti dalam periode sebelumnya. Namun, ada variasi berupa kegiatan kampanye literasi media yang dilakukan oleh LSM maupun organisasi mahasiswa. Kegiatan tersebut dilakukan melalui seminar pendek dan road show dengan melibatkan anak-anak. Sayangnya, gerakan tersebut dilakukan secara incidental dan kurang memikirkan bagaimana agar materi yang dikampanyekan bisa berjalan terus.

Periode Perkembangan Lambat (2010-sekarang)
Tidak adanya forum ilmiah yang membahas masalah literasi media, barangkali menjadi penyebab mengapa, pemahaman terhadap konsep menjadi sangat beragam, dan hal itu kemudian tercermin dalam program/kegiatan yang dilaksanakan oleh berbagai lembaga. Hal lain yang cukup menarik adalah absennya perguruan tinggi dalam mengembangkan isu ini. Program studi ilmu komunikasi tentunya memiliki relavansi yang tinggi untuk masalah literasi media ini.


Sejarah Literasi media di dunia
Literasi mulai dikembangkan di Inggris sekitar tahun 1930-an. Pada sekitar tahun 1960-an, ada suatu perubahan paradigm dalam pendidikan literasi media yang lebih menekankan bekerja dalam masyarakat dengan khalayak yang memiliki karakteristik popular culture (budaya pop) ketimbang meyakinkan secara frontal bahwa upaya budaya pop itu merusak.
Sejak tahun 1970-an di Inggris muncul kursus-kursus pertama secara formal dalam fokus studi dalam dunia film  dan kemudian selanjutnya muncullah studi media sebagai obsi untuk kelompok muda didalam cakupan usia 14-19 tahun. Di Inggris sendiri dalam kurikulum pendidikan sejak tahun 1990 mengharuskan persyaratan untuk mengajar sekitar media sebagai bagian dari bahasa Inggris.
Perkembangan literasi media di Australia, pendidikan media dipengaruhi oleh pengembangan-pengembangan di Inggris berhubungan dengan inokulasi dan seni-seni popular yang ada. Salah seorang pakar pendidikan media di Australia yakni Graeme Turner dan Yohanes Hartley yang membantu mengembangkan Austalia Media Eduacation, suatu studi dan kajian mengenai media. Selama kurun waktu 1980-1990-an, Robyn Quin dan Barrie MacMahon menulis buku textbook diantaranya real images menerjemahkan banyak teori-teori media kedalam kerangka pelajaran kelas yang sesuai. Di dalam kebanyakan Negara Australia, media adalah satu dari lima bagian penting dari Arts Key Learning Area (wilayah pendidikan seni) dan termasuk pelajaran-pelajaran penting.
Perkembangan literasi media di Negara Afrika Selatan, tuntutan akan pendidikan media meningkatkan sebagai akibat penghapusan politik apartheid dan adanya pemilihan yang demokratis tahun 1994. Konferensi nasional yang pertama dari Media Education di Afrika Selatan dilaksanakan tahun 1990 dan baru menjadi kurikulum nasional secara tertulis pada tahun 1997. Karena kurikulum ini bekerja keras untuk mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dari suatu masyarakat yang demokratis.
Perkembangan literasi media di Negara-negara Eropa dalam beragam bentuk. pendidikan media mulai diperkenalkan dalam kurikulum pelajaran sekolah dasar di Finlandia tahun 1970 dan di sekolah menengah atas tahun 1977, namun baru serentak dilakukan pada sekitar tahun 1990-an di Negara Swedia baru dilaksanakan mulai tahun 1980 dan di Denmark tahun 1970, dari kedua Negara itu pendidikan media dilibatkan secara menyeluruh pada sekitar tahun 1980-1990 sebagai pendidikan media secara bertahap berpindah dari sebagai suatu pendidikan perilaku moral warga Negara menjadi pendidikan bagi murid-murid di sekolah.
Pada tahun 1994 di negara Denmark mengesahkan pendidikan media sehingga pendidikan media mendapatkan pengakuan namun belum terintegrasi sepenuhnya dengan sekolah. Pendidikan media di Denmark lebih menitikberatkan pada pendidikan teknologi informasi.
Di Negara Perancis sudah mengenalkan pengajaran tentang studi film, namun hanya terbatas pada kursus-kursus konferensi-konferensi dalam hal produksi media. Sedangkan Negara Jerman telah dilakukan melalui penerbitan tulisan secara teoritis menyangkut melek media antara tahun 1970-an-1980-an.


Urgensi/ pentingnya Literasi Media
Kehidupan manusia bisa diibaratkan sebagai sebuah pasar swalayan terhadap pesan-pesan yang ada di media. Karena pesan-pesan itu datang dari berbagai media hingga manusia sendiri tidak tau pasti berapa banyak pesan-pesan yang telah menerpa dalam sehari. Keadaan seperti inilah yang membuat orang-orang rentan terhadap gagasan, dan informasi yang tertinggal. Untuk menghindari hal tersebut kita harus bekerja keras melindungi diri dari terpaan media karena media akan selalu tampil dengan kekuatan penuh terus menerus dan  berbagai cara agar kita menyesuaikan agenda kehidupan dengan agenda media tersebut.

Cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan literasi media yakni mengkritisi pesan media hingga media tidak bisa menetapkan tujuan kehidupan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru yang Hampir Setengah Tahun

Adalah Pokoknya

(Bukan) Hidup untuk sekedar hidup