Dompet Kosong

Penvill's- Siapa yang tak mau hidup di ibu kota, tempat dimana setiap ruas tanah diagungkan karena dihuni gedung-gedung tinggi bertingkat dengan segudang lapangan pekerjaan, dimana sekolah-sekolah berjejeran dengan akreditasi yang membanggakan serta menjadi incaran setiap tamatan-tamatan dimanapun berada.  Dengan jumlah populasi manusia yang padat tentunya sangat mudah mengembangkan sebuah usaha baru.

Setidaknya seperti itulah wajah ibu kota yang kulihat saat ingin dan pertama kali memulai kehidupan disini dulunya. Kehidupan sebagai mahasiswa yang hanya bermodalkan untung untuk mengadu nasib selama empat tahun ke depan. Aku memang bangga karena Tuhan memilihku diantara ribuan pendaftar lainnya untuk berkuliah ditempat yang aku inginkan ini.

Memiliki darah keturunan minang setidaknya sudah cukup bagi seorang anak laki-laki yang baru tamat dari jenjang SMA sepertiku untuk hidup mengingat masyarakat kami memang disebut perantau dan berhasil bertahan hingga sukses diperantauan. Tapi, entahlah denganku.

Masih lekat dalam ingatanku empat tahun silam dua hari sebelum masa orientasi mahasiswa baru atau yang biasa di sebut ospek oleh teman dan seniorku, setelah tiga hari menyusuri jalanan dan lautan kakiku kuinjakan kembali di ibu kota ini setelah dua tahun lamanya namun dengan tujuan dan masa yang berbeda.

“Pak maaf, masjid yang mengarah ke kampus A dan dekat dari sini dimana ya pak,”

Pertanyaan tersebut yang menjadi awal mula titik perjuanganku sebagai perantau dan menjadi masa yang tidak pernah aku lupakan dan terpampang abadi di postingan facebook ku kala itu. Bagaimana tidak dengan satu tas sandang yang nampak begah, saru rantang rendang di tangan kiri serta sebotol air mineral yang sudah ku isi ulang beberapa kali dengan meminta disetiap pemberhentian, lebih kurang 5 KM perjalanan aku lalui dengan jalan kaki sesuai arahan kenek bus yang kutanya tadi.

“Anak hendak kemana?” tanya seorang pengendara motor saat aku tengah menepi dan duduk untuk mendeguk seberapa tetes air yang masih tersisa ditabung air mineral yang ku bawa.

Ku pandangi lekat-lekat dengan mata yang sedikit gatal karena polusi sepanjang perjalanan sosok pengendara motor yang memakai pakaian serba putih dengan jenggot tipisnya itu.

“Itu pak, kesana,” taganku mengarah pada kubah masjid yang sudah mulai terlihat.

Dengan hati malaikatnya meskipun tak mengenalku tanpa banyak pertanyaan yang mengitimidasi beliau memberiku tumpangan kearah tujuanku yang juga merupakan arah tujuannya. Beliau ternyata pengurus masjid yang kutuju, setelah menumpang mandi da berganti pakaian beliau juga menyuguhiku sebungkus nasi yang nampak masih hangat.

“Ini tadi bapak membeli makanan untuk kita makan bersama-sama kebetulan bapak juga belum makan,”

“Saya jadi merepotkan bapak lagi,”

Ditengah lahapnya makan kami yang dibarengi dengan sedikit perkenalan kecil telepon ku berbunyi. Panggilan itu dari bang Thaufik, yang menanyakan keberadaanku serta apakah aku telah mendapatkan tempat untuk tinggal atau belum.

Bang Thaufik merupakan kakak tingkatku di SMA dulu yang berhasil meyakinkanku untuk berkuliah disini. Kehidupannya memang lebih layak diriku dan siswa lainnya dulu namun hal tersebut tidak menjadikan dia anak yang gila hormat dan pamer. Sebenarnya jauh-jauh hari bahkan saat pengumuman kelulusan baru saja keluar, dia sudah berpesan agar menghubungi jika ingin ke Jakarta agar kami bisa tinggal bersama setidaknya tinggal di kos yang berdekatan. Tapi kendati demikian ayah dan ibu sudah mewanti-wantiku.

“Thaufiq itu kedua orangtuanya PNS, dan dia punya dua kakak yang juga sudah bekerja. Lingkungannya dan kamu itu beda Zik, uang kosnya saja sebulan satu juta. Kami tak melarang kau untuk bergaul dengan siapapun punya banyak teman itu bagus tapi ingat seperjuangan boleh tapi nasib belum tentu sama,” Kata itu yang diucapkan ayah saat aku mengatakan akan menghubungi bang Thafiq saat sudah sampai di Jakarta.

‘Apa benar kamu sudah mendapatkan tempat tinggal?,” pengurus masjid tadi membuyarkan lamunanku.

“Belum pak, saya hanya tidak ingin merepotkan orang lain, lagi pula yang saya tahu tempat abang saya ini bayaran perbulannya mahal,” imbuhku sembari menggaruk kepala menandakan kebohonganku diketahui.

Aku dan pengurus masjid itu kembali hanyut dalam perbincangan hangat, sama halnya seperti dia yang dengan tanpa ragu memberiku tumpangan aku juga tidak keberatan berbagi keluh kesah termasuk mengenai kondisiku saat ini hingga aku ditawari untuk tinggal di masjid ini.

Setiap hari, Senin hingga Jumat sesuai jadwal kuliah selama satu semester 3 KM perjalanan kutempuh pulang pergi dengan berjalan kaki dengan segala ketetapan waktu yang harus kupenuhi baik untuk jam perkuliahan maupun hal lainnya. Selama satu semester aku benar-benar berhemat dan gigih mencari peluang beasiswa. Meskipun golongan UKT yang kudapatkan tergolong rendah, tetap saja tak ada uang sebanyak itu yang tersimpan ditabungan ataupun terselip didalam dompetku. Ajakan teman-teman untuk sekedar nongkrong atau bahkan membeli buku seringkali aku abaikan.

“Zik, kamu belum pernah lo nongkrong bareng kita,”

“Insha Allah ya, next ngumpul pasti ikut,”

Sebarnya masa-masa itu cukup sulit bagiku semakin hari rasa tidak enakan ku pada teman-teman dan diriku sendiri tak pernah tak ku hiraukan, memang selama ini aku tak pernah menghiraukan biaya hidup selama satu semester ini dengan semua keringat setiap harinya hingga tabunganku kini tak hanya tertera empat angka namun sedikit lebih bahkan dompetku kini sudah tak hanya diisi kartu-kartu lagi. Itu satu sisi yang ku syukuri namun disisi lain aku belum bisa seperti teman-teman yang sudah tergabung dibanyak kegiatan kemahasiswaan di kampus. Bukan maksud menyalahkan apapun dan siapapun karena memang hal ini terkait manajemen waktuku pada saat itu yang belum pas.

Satu semester berlalu begitu cepat namun cukup melelahkan, saat itu hari terakhir ujian akhir semester, saat hendak pulang menuju masjid di gerbang tiba-tiba aku bertemu bang Thaufiq dengan beberapa temannya tengah membagikan lembaran-lembaran kertas pada mahasiswa yang melewati mereka.

“Lagi apa bang,”

“Kebetulan nih Zik, kamu masih mencari beasiswakan, sebenarnya dari kemarin abang coba menghubungi kamu tapi gak nyambung-nyambung, ini ada beasiswa kamu bisa daftar siapa tahu diterima,”

“Makasih bang,”

“Kalau kamu lulus kita bakal seasrama untuk satu semester ini, pokoknya kamu harus lulus ya, terutama pas wawancara,”

“Abang beasiswa juga,” tanyaku dengan gamblangnya.

“Iyalah, orang tua abang sudah pensiun, kakak ada dua tapi anaknya banyak dan si kembar masih SMA jadi ya gitulah, dulu pas semester satu sebelum dapat beasiswa bahkan abang kerja paruh waktu di café fakultas,”

Jawaban bang Thaufiq membuatku kembali mencerna semuanya, setelah mengurus berkas-berkas yang diperlukan dan melewati beberapa seleksi aku menjadi salah satu dari 10 orang lainnya yang beruntung. Semester dua aku tak lagi harus berjalan berkilo meter bolak balik, aku bisa meluangkan waktu untuk kegiatan selain perkuliahan.  

Hal yang membuat kesulitan didalam kehidupan kita terkadang menjadi visi dan misi sendiri bagi kita, isi dompet (uang) adalah salah satunya, meskipun memungkirinya dengan segudang alasan tetap saja semua materi, bahkan ilmu itu butuh uang untuk didapatkan dalam konteks kehidupan dunia. (Penvill's)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru yang Hampir Setengah Tahun

Adalah Pokoknya

(Bukan) Hidup untuk sekedar hidup