Maaf
Part 1
Harapan kenagan menjadi fikiran
Kala canda tawa berubah dengan deretan
kata
Sesentak jiwa nan manja tertegun
Ntah karna apa namun semua berjalan
cepat
Kaki ini di paksa melangkah
Meninggalkan kenangan yang seharusnya
Walau hati ini bertahan, namun tak
terikat
Mengisahkan penguraian air mata di
tiap penyesalan
Kesalahan tak harus dibandingi dengan
amarah
Tak akan padam jika di beri udara
Jika memang api tak bisa padam
Setidaknya hilang beberapa gejolak
Kerasnya hati sedikit dinginkan
suasana
Telah ada kesempatan kedua namun harus
tetap bersama
Berunding dengan satu tekad meraih secara
nyata
Tak ingin pupus dan terkalahkan oleh
kekecewaan
Maaf kami, bagi setiap air mata dan
kegelisahan
Janji kami, sebagai penebus keringat
kegundahan
Semangat kami, sebagai penarik
senyuman yang terlanjur hilang
Dan kehadiran kami pun, menciptakan
kenangan yang seharusnya
Part 2
Walau bukan tujuan utama, namun waktu
terbuang di sini
Membuat kami mengenal lebih dekat
dengan canda tawa
Ringan bibir dan ringan hati untuk
kami
Satukan semua dengan simpul yang tak
nampak
Kami tau harapan itu kegembiraan bagi
kami
Yang diperjuangkan dengan menahan
banyak beban
Mungkin memang kami yang tak pernah
menyatu
Hingga senyuman yang dulu hilang
beberapa saat
Kami tau kekecewaan itu cukup bersar
Namun, kami tak tau yang lebih besar
dari kekecewaan itu
Kami memang tak melihat permohonan
yang terjadi
Namun kami tahu itu usaha yang sulit
Maaf kami, bagi setiap air mata dan
kegelisahan
Janji kami, sebagai penebus keringat
kegundahan
Semangat kami, sebagai penarik
senyuman yang terlanjur hilang
Dan kehadiran kami pun, menciptakan
kenangan yang seharusnya
Part 3
Semangat saat perkenalan mungkin
terlupakan oleh kejadian itu
Yang awalnya kebanggaan mungkin
diakhiri kekecewaan
Kami memang belum pantas, karena anak
manja ini masih belum mengerti
Ucapan itu bagai cambuk
Kekecewaan yang terlihat, tumbuhkan
motto baru bagi kami
Maaf kami, bagi setiap air mata dan
kegelisahan
Janji kami, sebagai penebus keringat
kegundahan
Semangat kami, sebagai penarik
senyuman yang terlanjur hilang
Dan kehadiran kami pun, menciptakan
kenangan yang seharusnya
Mungkin hanya beberapa kalimat
Yang bermodalkan tinta dan selembar
kertas
Namun, suara parau kemarin masih
terngiang
Genangkan air mata karena penyesalan
Terima kasih karena telah siramkan
minyak
Segejolak api dulu kini bagai api
unggun
Terima kasih karena kesempatan kedua
itu
Hingga membuat yang dulu retak menjadi
tak terpecahkan
(Penvill's)
Komentar
Posting Komentar