Jauh Mendekatkan (Alumni Part 1)


Jauh Mendekatkan

Dulu saat masih SMA pasti sempat berdoa, semoga cepat tamat. Apalagi kalau kamu lagi ada masalah sama orang-orang disana. Rasanya ingin bilang “Duh kenapa sih hidup ini berputar-putar antara mereka aja,”

Akhirnya saat sudah lulus dan cerita seputar putih abu-abu selesai, kamu bakalan sering bilang. “Perasaan baru kemarin ikut MOS, kangen juga sama mereka, kapan ngumpul ya?, kalau ngumpul bakalan kayak dulu atau gimana?

Salah satu momen yang paling kamu tunggu-tunggu dulu setelah ujian pasti jalan-jalan sama perpisahan. Kemana-mana selalu ambil foto bersama, itupun nggak sekali cekrek, tapi berkali-kali. Apalagi saat perpisahan, yang awalnya pagi bahagia karena kata sekolah hari itu adalah hari untuk kelas tiga, sorenya pasti mewek semua, plus lagu-lagu yang dinyanyiin ngena banget saat itu.

Awalnya nyanyi santai lalu bengong beberapa saat dan itu masih bisa mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan. Hingga akhirnya ada genangan air mata sembari plangak-plongo melihat kawan-kawan disekitar dan pecahlah suasana haru. Biasanya itu terjadi pas lagu Stinky yang judulnya mungkinkah, sampai jumpa, sama lagu kisah kasih di sekolah.

Udah selesaituh masa perpisahan, dalam beberapa saat kamu sama-sama sibuk sendiri mengurusi kelanjutan hidup masing-masing. Ada yang ngurus kuliah, kerja dan ada beberapa yang mulai memikirkan rumah tangga.

Untuk beberapa bulan, 3 sampai 6 bulan kamu mungkin masih menikmati kehidupan baru. Masa-masa punya kenalan baru, punya penghasilan sendiri dan lainnya. Ya bisa dibilang kamu gak akan ingat sama teman-temanmu.

Setelah 6 bulan bagi yang kuliah mungkin lagi libur semester, yang kerja pulang kampung. Dan kegiatan sehari-hari kamu bakalan sedikit berubah bebrapa saat. Karena kamu generasi Z yang kata orang anak millennial berkemungkinan bermain gadget adalah pilihan utama bagimu.

Akhirnya gak sengaja pas lagi scrool chatan kelihatan grup kelas dulu, yang sudah 6 bulanan hanya diisi oleh orang-orang yang tidak saling berinteraksi. Salah satu dari kamu mungkin iseng hanya kirim chat Asslamualaikum atau P beberapa kali. Ada sebagian yang membalas dan sebagian lagi cuman jadi pembaca setia.

Akhirnya seorang dari penghuni grup bilang “Ngumpul yok” itupun diikuti emoticon senyum atau emoji titik dua yang diikuti huruf v kecil.

Saat itu aku yakin pasti bakalan sulit untuk menentukan jadwal yang pas hingga akhirnya ke skip  dan ngumpul hanya jadi wacana. Lalu beberapa hari setelah itu, tiba-tiba aja salah seorang dari penghuni grup bilang “Guys aku, sama a, b, c lagi di pantai nih, yang nggak sibuk ayok gabung sambil ngumpul,” dan meskipun itu mendadak yang datang pasti lumayan bayak lebihlah dari hitungan jari setidaknya.

Itu awalnya hingga mungkin setiap liburan semester kalian bakalan ngumpul, atau pas ada salah satu dari kalian atau keluarganya yang nikahan, dan yang paling sering jika ada diantara kalian yang kuliah atau keranya diluar provinsi dan sesekali pulang, pasti kamu bakalan sempat-sempatin ngumpul.

Ya meskipun kamu ngumpul dengan mereka cuman sekedar duduk dari siang sampai matahari tenggelam di tempat sewaan umum sambil pesan minuman bagi yang mau. Dan endingnya foto bareng, dan minta saling take di postingan masing-masing.

Kamu bakalan sering ketemu kok dengan mereka-mereka, pertanyaannya dulu nangis terisak-isak saat perpisahan kenapa? Tapi aku rasa itu feel, tanda bahwa kamu merasa saling memiliki dengan yang lain.

Aku sendiri baru sadar kedekatan itu hanya bisa dibuktikan jika ada jarak, karena tak selamanya jauh itu jauh, tapi jauh juga bisa mendekatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru yang Hampir Setengah Tahun

Adalah Pokoknya

(Bukan) Hidup untuk sekedar hidup