Tentang Apa Saja



Noted: Tulisan ini akan sangat hancur dan berantakan, tak memiliki alur yang jelas dan sulit dipahami. Jika tak paham, harap maklumi saja.

Pikiran

Kini aku percaya bahwa tidak ada yang mustahil selagi usaha dan harapan selalu beriringan dari diri seseorang. Sebenarnya hal ini sudah sering bahkan hampir setiap hari diungkapkan guruku, tapi aku saja yang belum mendapatkan kata kunci untuk membuktikan itu.

Kini aku berjalan dengan dua kata kunci itu, kata kunci yang membuat setiap hari tak ada ketakutan lagi bagiku untuk mencapai hal yang mustahil. Dan untuk hal-hal luar biasa yang dulu anku anggap mustahil karena dua kata kunci ini kini aku sudah mulai memetiknya satu persatu, bukan dalam bentuk harapan lagi namun sudah dalam bentuk hasil

Dua kata kunci itu adalah Berpikiran Positif dan Mengucapkan Hal Positif, Berfikiran positif bukan berarti menyepelekan kemungkinan buruk, namun pikiran positif ini lebih kepada meyakinkan diri dan menjust diri sendiri bahwa "kamu bisa, karena mereka bisa" tentu dengan adanya pikiran positif ini kita akan lebih hati-hati dan memiliki pertimbangan yang matang untuk meminimalisir kegagalan.

Dulu di zaman SD dan SMP aku sangat terpaku dengan mindset bahwa manusia itu punya kecerdasan masing-masing, sehingga aku mengabaikan kecerdasan lain dan hanya fokus ke salah satu kecerdasan saja. Semasa SMP aku tak dikenal dengan orang yang friendly, mudah bergaul, ataupun anak yang aktif, aku tak punya banyak teman akrab, kebanyak temanku datang hanya ketika mereka butuh orang untuk menjelaskan kembali pelajaran apa yang tidak mereka paham.

Ya aku adalah sikutu buku yang juga tak pintar-pintar amat, tak berkacamata, dan hanya hobi membaca buku-buku fiksi ataupun membaca buku yang memiliki cover menarik saja. Aku hanya berinteraksi dalam keaadaan formal saja seperti kuis di kelas atau diskusi mata pelajaran. Selebihnya ya mojok di perpustakaan meskipun terkadang hanya memegang buku tanpa membacanya. 

Seperti remaja pada biasanya aku juga iri pada temanku yang dikenal setiap orang dalam stuasi apapun, terlebih temanku yang pintar namun juga aktif berorganisasi. Seharusnya rasa iri itu aku tururi dulu agar aku mencoba dan berubah, namun sayangnya otakku bilang "Jangan! nanti gagal, malu, ini saja cukup," begitu  lebih kurang yang kuingat mungkin yang aku pikirkan. Betapa berdosanya diri ini pada diri sendiri kala itu, mengubur harapan hanya karena satu ketakutan, ketakutan yang sebenarnya belum tentu akan terjadi.

Di SMA sikap buruk itu masih belum hilang, namun tak berlangsung lama beberapa bulan setelah menjadi siswa SMA  


Ucapan

Hal terpenting untuk diperhatikan dalam hidup ini bagi ku adalah ucapan, ucapan manusialah yang menentukan suatu hal itu istimewa atau tidak, penting atau tidak dalam kehidupan seseorang tersebut. Ucapan juga senantiasa menjadi tolak ukur tersendiri bagi manusia untuk menentukan sifat, sikap dan hal lainnya yang ada pada diri seseorang.

Ada istilah mulutmu harimaumu, kalau kata orang minang "Bapikia dulu sabalum mangecek," atau ungkapan bahwa ucapan itu adalah sesuatu yang tidak bisa di tarik. Semua umpamaan itu bagiku benar, sangat benar malahan. Bagiku ucapan masih menjadi tolak ukur untukku bisa mempercayai seseorang pun dengan orang lain, yang aku percayai bahwa mereka juga menilaiku dari ucapan.

Dari ucapan aku mendapatkan teman, dari ucapan aku mendapatkan momen-momen teridah dan terburuk dalam hidup ini. Sebagai seorang yang cukup egois, karena ucapan aku sangat sering membohongi nuraniku sendiri.

Tulisan ini hanya serba serbi pandangan dan hal yang pernah aku alami yang tentunya bersangkutpautan dengan ucapan. Dulu semasa SMP aku adalah seorang yang sangat tertutup, kalau kata anak muda sekarang introvert istilahnya, sebabnya hanya karena aku selalu berkata mustahil jika aku bisa melakukan itu.



Kewajiban Untuk Merasa Iri

Aku menemukan defenisi berbeda dari kata iri, iri bagiku bukan SMS (Senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang) ada arti positif dari iri yang aku temui dimana hasil dari iri tersebut adalah hasil yang sangat membanggakan.

Iri bagiku adalah cemburu melihat kepandaian dan kepiawaian orang lain untuk menjadi cambuk agar aku juga mencobanya. Karena aku yakin manusia adalah makhluk yang bisa semuanya. 

Dasarnya aku bukanlah orang yang tak pandai apa-apa hidup hanya bermodalkan nasehat dari orang tua agar bisa menjadi manusia yang memanusiakan orang lain. Kelas IV MDA sebagai seorang murid tomboy yanh selalu bertengkar dengan kawan-kawan laki-laki aku berhasil terpilih jadi tim tari dan nasyid mewakili MDA kami.

Lalu sewaktu Sekolah Dasar sebagai seorang siswi yang dianggap sangat pemalu, rumor itu aku patahkan dengan rutin menjadi pembawa acara saat upacara bendera di sekolah.

Sewaktu SMP, aku insecure saat bertemu dengan teman-teman yang begitu pintar namun dengan iri itu aku bisa dikenal sebagai salah satu siswa yang cukuo berprestasi mewakili sekolah dalam olimpiade, lomba volly tingkat kota, dan juga bisa tergabung dalam organisasi hits sekolah (OSIS).

Di masa Aliyah aku iri dengan kemampuan leadership beberapa orang dan berkat iri itu aku bisa menjadi leader beberapa hal. Menjadi pradana putri dan orang yang memiliki posisi baik di MPK dan Saka Bhakti Husada ternyata benar memberi banyak pengatus bagi relasiku hingga bisa berkegiatan berskala nasional bisa aku rasakan. Menjadi panitia dan berperan penting di kegiatan kota juga. Sungguh jika aku tak iri aku hanyalah tamatan yaang kini sudah tak tau lagi dengan tempat yang sudah memberiku ilmu.

Lapangan

Berkegiatan diluar ruangan adalah hal yang sangat membuatku candu. Aku adalah orang egois yang punya jadwal rutin yang tak boleh di usik, terutama jadwal istirahat.

Hingga umur 21 ini hanya ada satu alasan untukku mau bergadang bahkan rela tak tidur sekejappun beberapa hari. Hal itu adalah kegiatan lapangan (lebih spesifiknya kemah) sungguh kegiatan dam cada ria di malam hari lebih mengasikan dari pada tidur kala itu.

Satu saja tolak ukur untuk totalitas bagi seorang aku, jika aku sudah rela kehilangan jam istirahat demi hal itu berarti hal tersebut adalah yang begitu berharga.

Satu yang diajarkan kakak-kakak ku yang memiliki arti sangat luas. Talatak santuang taruih.

Aku bisa apapun kok, bisa dalam kondisi bagaimanapun, dan paham dengan siapapun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru yang Hampir Setengah Tahun

Adalah Pokoknya

(Bukan) Hidup untuk sekedar hidup