Dunia Semakin Pintar, Kita Juga Harus Semakin Bijak

sumber foto: VPNoverview.com

Digitalisasi menjadikan semua hal berada digenggaman manusia, praktis, dan membuat segala urusan menjadi lebih menyenangkan. Misalnya saja untuk melakukan transaksi perbankan seperti transfer uang, nasabah tidak perlu bergerak dari posisnya saat itu ke bank ataupun mesin ATM atau melakukan pembayaran online shop, semua cukup dengan telepon pintar saja.

Begitu banyak kemudahan, pun sebaliknya dengan nasib-nasib buruk yang mungkin bisa saja menimpa pelaku digitalisasi atau kejahatan siber juga semakin bertambah. Penikmat digitalisasi juga dituntut untuk meng upgrade kemampuan dan pengetahuan dalam menggunakan agar menjadi lebih bijak serta terhindar dari segala bentuk kejahatan di dunia maya.

Bank dan semua orang yang terkait seperti nasabah menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber untuk memberi keuntungan bagi dirinya. Hal ini dapat kita lihat dari maraknya penipuan yang dialami nasabah bank tersebut dengan modus Social Engineering (Soceng) karena minimnya literasi nasabah dalam menggunakan kecanggihan teknologi untuk kegiatan perbankan.

Kejahatan yang dilakukan melalui dunia maya atau siber tentu akan lebih mudah dilakukan namun juga sangat lebih sulit menemukan dan menghentikannya dibanding kejahatan yang dilakukan di dunia nyata, seperti perampokan, jambret dan lainnya. Ini dikarenakan kejahatan siber dilakukan oleh orang-orang yang begitu paham dengan siber itu sendiri dan dilakukan ditempat yang tidak terduga serta kapan saja.

Jika didunia nyata kasus yang kita dengar untuk pengambilan harta benda atau uang hanyalah pencurian, kejahatan siber saat ini memiliki banyak bentuk mulai dari skimming atau menggandakan data nasabah melalui mesin ATM menggunakan alat skimmer, phising atau menggandakan data nasabah melalui layanan internet banking, sms dan penyebaran link palsu, lalu OTP (One Time Password) atau penyedotan dana nasabah melalui situs jual beli, Voice Phising dengan cara menghubungi korban melalui telepon dan mengaku dari pihak bank, hingga Sim Swap yakni pencurian data dengan mengambil alih nomor HP untuk mengakses akun perbankan korban.

Jika kita pahami lagi sebenarnya seseorang berpeluang sangat besar menjadi korban kejahatan siber, cukup dengan memberi tahu kode atau bahkan menganggkat telepon dari orang asing data sesorang bisa didapatkan oleh pelaku kejahatan.

Terlebih saat ini, masyarakat cenderung tidak bijak dan cermat dalam bermedia terkhusus media sosial yang tidak memiliki filter kejahatan. Tren terkadang menjadi nilai gengsi seseorang untuk turut melakukannya tanpa menyadari hal tersebut dapat memberikan informasi-informasi pribadi dirinya pada orang lain.

Salah satu contoh tren media sosial yang dapat membocorkan informasi penting terutama yang berhubungan dengan hal perbankan adalah pengguna instagram yang berbondong-bondong me share tempat tanggal lahir, nama saudara, hingga nama ibu di snapgram miliknya.

Menginfestasikan uang atau harta ke bank dalam bentuk tabungan memang merupakan hal bijak yang harus dilakukan sesorang sebagai bentuk peduli terhadap masa depan, namun jika tidak diikuti dengan kehati-hatian bisa saja hal tersebut malah akan melenyapkan semua itu karena kejahatan siber bisa terjadi kapan, dimana dan pada siapa saja.

Mencegah terjadinya kejahatan tersebut ada beberapa hal yang bisa dilakukan nasabah diantaranya:
1. Melindungi data pribadi dengan tidak oversharing di media sosial.
Beberapa pengguna media sosial cenderung terlah menganggap media sosial sebagai tempat yang aman sehingga dengan sangat mudah membagikan informasi pribadi.
2. Melakukan dauble check dengan tidak mengambil keputusan segara tergesa-gesa jika dihubungi sesorang untuk membuat keputusan secara mendesak.
Terkadang desakan bisa membuat seseorang melakukan sesuatu secara tergesa-gesa dan tidak mempertimbangkan secara matang, biasanya penipu akan memakai modes waktu yang singkat untuk mempengaruhi keputusan sasarannya.
3. Memahami persyaratan dan mekanisme yang diberikan dengan teliti.
Nasabah perlu detail dalam melihat setiap persyaratan dan mekanisme, apakah persyaratan tersebut wajar atau tidak dan apakah mekanisme yang ditawarkan tersebut sesuai dengan prosedur yang telah diperkenalkan pihak bank sebelumnya atau tidak.
4. Mengaktifkan fitur kemanan yang disediakan oleh lihak bank.
Fitur keamanan seperti ini dapat dicontohkan dengan SMS atau email notifikasi pada setiap transaksi keuangan yang dilakukan sehingga nasabah bisa mengetahui setiap transaksi baik masuk maupun keluar.

Dunia semakin pintar dan canggih pengetahuan dan otak manusia juga harus memiliki banyak literasi terkait hal tersebut. Di abad ini manusia hendaknya tidak diperalat teknologi namun bisa mengendalikannya serta bijak dalam mengambil keputusan dan mencermatinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Baru yang Hampir Setengah Tahun

Adalah Pokoknya

(Bukan) Hidup untuk sekedar hidup